Senin, 19 Maret 2012

analisis cerpen "dewan togel" berdasarkan sosiologi sastra

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Karya sastra merupakan ungkapan pribadi manusia berupa penglaman, pemikiran, perasaan gagasan, semangat, keyakinan dalam suatu gambaran konkret yang membangkitkan pesona melalui alat-alat berupa bahasa (Sumarno dan Saini, 1991:3).
Pernyataan di atas mengandung makna bahwa manusia menggunakan karya sastra sebagai sarana untuk mengungkapkan sarana, gagasan dan pemikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia/pembaca.
Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu menghasilkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Pembaca dapat dengan bebas melarutkan diri bersama karya sastra tersebut dan mendapatkan kepuasan karenanya. Karya sastra yang merupakan elemen penting untuk membangun watak insan. Dengan adanya bahasa dalam suatu karya sastra dapat mendorong pembacanya untuk menjiwai nilai-nilai kerohanian, kemanusiaan dan kebudayaan.
Salah satu contoh karya sastra yang dapat dijadikan sebagai media untuk mengekspresikan diri adalah cerpen. Cerpen adalah cerita yang berbentuk proses yang relative pendek dan lebih sering disebut cerpen.
Perkembangan kesusastraan Bali juga tidak kalah menarik. Novel Nemoe Karma (Ketemu Jodoh) karya I Wayan Gobiah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931 selalu disebut-sebut sebagai tonggak kelahiran sastra Bali modern. Perkembangan sastra Bali modern sejak awal kelahirannya sampai perkembangan mutakhir tahun 2000-an. Ternyata pada dekade 1920 hingga 1920-an sudah muncul banyak cerita pendek berbahasa Bali hasil karya para guru yang dicetak oleh penerbit kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan akan buku pelajaran sekolah-sekolah dasar di Bali. Cerpen-cerpen itulah yang mesti diakui pula sebagai tonggak awal lahirnya sastra Bali modern. Dari kemunculan novel Nemoe Karma tersebut, munculah novel-novel lainnya hingga saat ini.
Selai novel, kesusastraan Bali modern yang berkembang saat ini adalah cerita pendek (cerpen). Saat ini sudah banyak cerpen-cerpen yangikut meramaikan kesusastraan Bali modern. Cerpen-cerpen tersebut dapat dijumpai dalam majalah-majalah Hindu maupun koran-koran mingguan. Salah satu cerita pendek tersebut adalah Dewan Togel. Novel ini dimuat dalam koran Bali Post Minggu, 31 Oktober 2010  dan pengarangnya adalah I Made Sugianto. Sebagai sebuah karangan fiksi, cerpen ini diceritakan secara mengesankan oleh pengarangnya. Terbukti dengan bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut menggunakan bahasa Bali umum sehingga mudah disimak maupun dipahami isinya oleh pembaca.
Selain dari segi bahasa, yang menarik dari cerpen ini adalah judulnya yang bisa mentafsirkan banyak arti. Jika diartikan dalam bahasa bahasa Bali, Dewan togel ini bisa berarti dewanya togel atau dalam arti sebenarnya rajanya togel. Sedangkan jika diartikan dalam bahasa Indonesia Dewan Togel bisa berarti berhubungan dengan politik anggota dewan yang mengurusi togel atau pekerjaannya mengkhusus di bidang togel, sehingga dilihat dari judul cerpennya cerpen ini tergolong unik.
Tidak hanya dalam hal bahasa saja, isi dari cerpen ini mencerminkan kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan aspek social-budaya masyarakat, serta adanya aspek agama atau religius yang terdapat di dalamnya yang dikemas secara unik oleh pengarangnya.
Dengan adanya aspek-aspek tersebut maka dengan mudah cerpen ini dapat dianalisis oleh pembacanya mengingat cerpen yang dikarang tersebut dibuat berdasarkan kenyataan yang ada di masyarakat pada umumnya dan masyarakat Bali khususnya.

1.2.  Masalah
Dari latar belakang yang diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam  analisis ini adalah sebagai berikut:
a.       Bagaimanakah struktur cerpen Dewan Togel?
b.      Aspek-aspek apa saja yang terdapat dalam cerpen Dewan Togel?

1.3. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas secara umum dapat diuraikan bahwa cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra diharapkan memunculkan pemikiran-pemikiran yang positif bagi pembacanya, sehingga pembaca peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan mendorong untuk berperilaku yang baik. Cerpen  dapat dijadikan sebagai bahan renungan untuk mencari pengalaman karena cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan, pendidikan, serta pesan moral. Pengalaman batin dalam sebuah cerpen dapat memperkaya kehidupan batin penikmatnya.
 Secara khusus tujuan analisis cerpen yang berjudul Dewan Togel ini adalah:
a.        Untuk menggambarkan struktur cerpen Dewan Togel kepada pembaca.
b.      Untuk menganalisis sosiologi cerpen Dewan Togel berdasarkan tinjauan sosiologi sastra.
BAB II
TINJAUAN STRUKTUR CERPEN DEWAN TOGEL
Strukturalisme merupakan sebuah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sebuah struktur yang terbangun dari unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya secara totalitas dan otonom. Struktur berarti tata hubungan antara bagian-bagian suatu karya sastra atau kebulatan karya itu sendiri. Karya sastra bersifat otonom, artinya karya sastra terbangun atas unsur-unsur di dalam karya sastra itu sendiri tanpa pengaruh dari unsur-unsur luarnya. Totalitas berarti unsur-unsur yang saling berkaitan menjadi sebuah kesatuan dan tunduk pada kaidah sistem karya sastra (Nurgiantoro, 2007: 36).
Strukturalisme sastra adalah pendekatan yang menekankan pada unsur-unsur di dalam (segi intrinsik) karya sastra. Tujuan analisis struktural adalah membongkar dan memaparkan secermat, semendetail, serta semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna secara menyeluruh (Teeuw, 1991: 61). Sebuah karya sastra merupakan totalitas suatu keseluruhan yang bersifat artistik. Sebuah totalitas yang terdapat dalam karya sastra mempunyai unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menguntungkan. Analisis struktural karya sastra menurut Nurgiantoro (2007: 37) dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.
1.      Mengidentifikasi dan mendeskripsikan unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra, seperti peristiwa-peristiwa, alur, tokoh, latar, sudut pandang, dan lainnya.
2.      Menjelaskan bagaimana fungsi masing-masing unsur tersebut dalam menunjang makna keseluruhan karya sastra.
3.      Menghubungkan antarunsur tersebut sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, analisis struktural cerpen Dewan Togel karya I Made Sugianto akan difokuskan pada sinopsis, insiden, analisis, alur, penokohan, latar, tema dan amanat. Masing-masinguraian tersebut adalah sebagai berikut:

2.1. Sinopsis
Diceritakan seorang laki-laki yang benama Nak Molog. Pekerjaannya sehari-hari hanya duduk santai sambil mengutak-atik angka mistik yang disebut togel. Pekerjaan ini digelutinya dikarenakan penghasilan yang didapatkan  jika berhasil menebak angka dengan benar lumayan besar dan bahkan melebihi modalnya, namun sayang Nang Molog tidak pernah mendapatkan hasil dari pekerjaannya tersebut.
Semenjak mengenal togel, Nak Molog  menjadi malas bekerja, bahkan kelakuannya seperti anak SD yang baru belajar menghitung. Parahnya lagi Nak molog percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya ada kotoran cicak jatuh di kepalanya, itu dikatakan kode dari alam sehingga jika diperhatikan tingkahnya seperti orang yang sedang bingung.
Karena tingkahnya yang seperti itu, istriya selalu menyinggungnya. Bahkan sering marah-marah. Bagaimana tidak, sawahnya yang biasanya dijadikan sebagai mata pencaharian dijual sebagai modal untuk memasang togel. Bukannya Nang Molog menjadi sadar setelah dinasihati oleh istrinya, tetapi semakin parah. Istrinya diusir dari rumah.
Sejak ditinggal istrinya, Nang Molog  menjadi kebingungan. Segala sesuatu yang biasanya disiapkan oleh istrinya sekarang tidak ada lagi. Yang dimiliki pak Molog saat ini hanya uang Rp. 5000,00 yang nantinya akan digunakannya untuk memasang togel. Pergilah Nang Molog ke warung tempat dimana Ia bisa membeli sesuatu untuk perutnya. Di warung kecil itu Nang Molog bertengkar dengan pemilik warung. Nang Molog ingin bon lagi di warung tersebut namun tidak diizinkan karena hutang Nang Molog yang sebelumnya belum dibayar. Dan terus menumpuk. Atas saran yang lebih tidak masuk akal dari penjaga warung tersebut, Nang Molog segera membayar makanan yang dibelinya. Pada akhirnya Nang Molog pergi ke tempat yang bernama pura Prajapati untuk meminta nomor togel.
2.2. Insiden
Sukada (1987:58-59) mengatakan bahwa insiden adalah kejadian atau peristiwa yang terkandung di dalam cerita, besar atau kecil yang secara keseluruhan menjadi kerangka yang membangun atau membentuk struktur cerita. Unsure yang dapat digunakan untuk mengujinya ialah plot(alur). Itulah sebabnya dalam sistematik tersebut di atas, insiden mendapat tempat pertama. Ada dua macam insiden yaitu:
a.         Insiden pokok yang mengandung ide-ide pokok cerita yang menjuruskan kesimpulan cerita kepada adanya plot.
b.         Insiden sampingan yaitu insiden yang menyimpang dari sebab-akibat yang logis, yang mengandung ide-ide sampingan, dan karena itu menjurus atau tidak menunjang adanya plot.
Menurut Luxemburg (1989:150-154), menyatakan bahwa insiden adalah peralihan dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Peristiwa dalam sebuah cerita, mengacu pada pertumbuhan plot. Seleksi itu dikelompokkna dalam:
a.       Peristiwa fungsional yaitu peristiwa-peristiwa yang secara menentukan mempengaruhi perkembangan plot.
b.      Peristiwa kaitan yaitu peristiwa kecil yang mengaitkan peristiwa utama.
c.       Peritiwa acuan yang tidak langsung mempengaruhi perkembangan plot, insiden ini mengacu pada perkembangan unsure yang lain.
d.      Hubungan antara peristiwa yaitu pengaturan kelompok-kelompok peristiwa atau episode yang ditemukan kemudia disaring agar didapatkan suatu peristiwa pokok.
Sasukat muduhin ngrumus togél, sewai dingeh tiang Nang Molog mauyutan ajak kurenanné. Kabenengan tiang mapisaga ngajak Nang Molog. Ané sanget dadi biuta, pamekasné manut tuturné Mén Molog, ban bikas kurenanné ané kiul magarapan ka carik. Pragat natakin jagut di kamar tamiu tur seleg ngrumus ngajak timpal-timpalné ané patuh paturu ngalih kasugihan ulian ipian. Sujatinné Nang Molog ajak timpal-timpalné tusing taén ngukup. Nomorné setata maimpas.
Terjemahannya:
sejak menggilai rumus togel, setiap hari saya dengar Nang Molog ribut dengan istrinya. Kebetulan saya bertetangga dengan Nang Molog. Yang sangat menjadi masalah, kata Men Molog, karena perilaku suaminya yang malas bekerja ke sawah. Hanya bertopang dagu di ruang tamu sambil serius merumus dengan teman-temannya yang sama mencari kekayaan dari mimpi. Sebenarnya Nang Molog dan teman-temannya tidak pernah beruntung. Nomornya selalu berlawanan.
Kutipan di atas menggambarkan awal munculnya insiden adalah ketika togel ini mulai menyebar dan masuk dalam lingkungan masyarakat. Nang Molog yang biasanya bersawah kini jadi asik merumus togel. Insiden ini merupakan insiden pertama yang akan memunculkan indisen-insiden lainnya. Misalnya saja akibat adanya togel ini Nang Molog sering bertengkar dengan istrinya. Setelah insiden tersebut kemudian datang kembali insiden kedua misalnya:
“Diolas Luh, bang ja icang nganggeh. Bli tuah ngaba pipis limang tali rupiah. Yén né anggon bli mabayahan, nyanan bli tusing ngidang masang togél. Petengé jani bli pasti ngukup. Bli ngelah nomor jitu ulian ngipi rauhin leluhur,” pangidih Nang Molog tekén dagangé.
Terjemahannya:
“minta tolong Luh, berikan saya hutang dulu. Bli hanya membawa uang lima ribu rupiah. Kalau ini dipakai Bli bayar, nanti Bli tidak bisa memasang togel. Malam nanti Bli pasti menang. Bli punya nomor jitu karena mimpi didatangi leluhur,” pinta Nang Molog kepada dagangnya.
Uraian di atas dapat dipastikan merupakan suatu peristiwa kecil yang merupakan dapat dikaitkan dengan cerita utama. Dari insiden inilah mincul insiden terakhir yaitu datangnya Nang Molog ke tempat angker bernama  setra Gandamayu

2.3. Alur (Plot)
Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya ditumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatuan yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan serta mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna untuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus untuk menekuninya.
Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembunyi dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti jalan cerita maka dapat ditemukan alur.
Alur bisa dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif bersifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersifat non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Selain yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik (back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang.
Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi, dengan sambung-sinambungnya peristiwa ini terjadilah sebuah cerita. Sebuah cerita bermula dan berakhir. Antara awal dan akhir ini lah terlaksana alur itu. Tentu sudah jelas, alur itu mempunyai pula bagian-bagiannya yang sederhana dapat dikenal sebagai permulaan, pertikaian dan akhir.
Dilihat dari jalannya cerita yang terdapat dalam cerpen Dewan Togel, pengarang mengawali ceritanya dengan perkenalan tokoh, berlanjut pada konflik dan akhir cerita. Jadi cerpen Dewan togel ini bisa dipastikan meggunakan alur maju. Pada cerpen tersebut dijelaskan gambaran-gambaran alur yang digunakan misalnya:
“Mekadang iban nyainé. Luh liunan munyi. Buktiang mani nah, déwan togélé kal mabéla pati ngajak bli. Buin mani bli dadi anak sugih ulian liu ngukup togél. Sesanginé beli lakar buin ngantén apang iluh tetep balu maimbuh sing payu. Mulihang iban nyainé, kurenan tusing mendukung geginan somah. Mekad!” Nang Molog cegik-cegik nundung kurenanné.
Semengan mara bangun Nang Molog marasa kéweh. Biasané kopi lan nasi bubuh anggon panyemeng suba sadia. Né jani kasurya, mamuyung, tusing ada apa.
Terjemahannya:
“pergi kamu. Wanita banyakan ngomong. Buktikan besok. Dewan Togelnya akan membela mati pada Bli. Besok Bli jadi orang kaya karena dapat togel. Nazarnya, Beli akan menikah lagi agar kamu tetap jadi janda ditambah tidak laku. Pulang kamu, istri tidak mendukung pekerjaan suami. Pergi!” Nang Molog kasar-kasar mengusir istrinya.
Pagi-pagi baru bangun Nang Molog merasa kesulitan. Biasanya kopi dan bubur yang dipakai sarapan sudah siap. Hari sudah semakin siang, kosong, tidak ada apa.
Dari penggalan cerita di atas tampak jelas bahwa setelah Nang Molog Mengusir istrinya, Ia merasa kebingungan. Keesokan hari sepeninggal istrinya sudah tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan untuknya.
Selain penggalan cerpen di atas, alur maju juga dijumpai pada penggalan cerpen pada paragraph lainnya. Seperti:
Surya sampun surub ring pakolemané. Sanja kagentos peteng. Nang Molog mataki-taki jagi nangkil ka Pura Prajapati. Nangkil ring sang nuénang sétra pacang nunas nomer jitu. Kabenengan nuju tilem ngaé guminé srebi. Yadiastun peteng, Nang Molog tusing makirig nyang atapak. Ia tetep majalan nuluh peteng. Sawatara majalan suba duang kilo, neked ia di tongos ané katuju. Sétra Gandamayu, Désa Pakraman Buung Kalah.
Terjemahannya:
Matahari sudah tenggelan. Sore telah berganti malam. Nang Molog bersiap-siap akan nangkil ke pura Prajapati. Nangkil kepada penunggu kuburan akan meminta nomor jitu.  Kebetulan hari tilem, membuat bumi gelap. Walau malam Nang Molog tidak bergeser walau sejengkal. Ia tetap berjalan menyusuri malam. Kira-kira sudah berjalan dua kilo, sampailah Ia di tempat yang ditujunya. Setra Gandamayu. Desa Buung Kalah.
Penggalan cerita diatas Nampak jelas bahwa setelah matahari tenggelam, Nang Molog pergi ke Setra Gandamayu untuk meminta nomor jitu pada penunggu kuburan yang ada di desanya.
Cerita ini dimulai dengan pengenalan tokoh utama yang bernama Nang Molog dengan hobinya yang suka bermain togel. Kemudian cerita beralih pada timbulnya konflik yaitu adanya togel itu sendiri di lingkungan rumah tangga Nang Molog. Kemudian gara-gara munculnya togel, rusaklah rumah tangga Nang Molog dengan diusirnya Men Molog dari rumah. Tahap ini merupakan puncak konflik dalam cerita Dewan Togel.  Setelah itu pada tahap akhir diceritakan Nang molog pergi ke tempat yang bernama Setra Gandamayu untuk meminta nomor jitu seperti yang disarankan oleh tetangganya. Demikianlah alur yang terdapat dalam cerita Dewan Togel.

2.4. Tokoh dan Penokohan
Jones dan Nurghiantoro mengemukakan bahwa penokohan adalah gambaran jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (1998:165). Penokohan karakter adalah bagaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita rekaannya (Esten, 1994).
Tokoh dalam cerpen bisa banyak, tetapi berperan sebagai tokoh utama biasanya tidak lebih dari dua orang. Tokoh lain berfungsi sebagai penegas keberadaan tokoh utamanya. Tokoh utama biasanya menjadi sentral cerita baik antagonis maupun protagonist.
Menurut Sumardjo dan Saini melukiskan watak tokoh dari cerita dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Melalui perbuatannya, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam menghadapi situasi kritis.
b.      Melalui ucapan-ucapannya.
c.       Melalui gambaran fisiknya.
d.      Melalui keterangan langsung yang digambarkan oleh pengarangnya.
Penyajian watak dan tokoh serta penciptaan citra tokoh terdapat beberapa metode, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada kalanya Pengarang melalui penceritaan mengusahakan sifat-sifat tokoh, pikiran, hasrat dan perasaannya. Kadang menyisipkan komentar pernyataan setuju tidaknya akan sifat-sifat tokoh itu.
Dalam cerpen Dewan Togel ini ada beberapa tokoh yang mendukung cerita tersebut. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
a.       Nang Molog
Pada cerita ini Nang Molog adalah tokoh utama yang merupakan pusat cerita. Nang Molog termasuk ke dalam tokoh antagonist. Wataknya keras, susah dinasihati, kasar, dan suka berjudi. Watak-watak tersebut dapat dilihat dari perbuatan dan ucapa-ucapannya dalam dialog. Gambaran yang dapat diuraikan dalam cerpen tersebut antara lain:
Yén étang-étang uli ilu, liu suba pipisné Nang Molog telah anggona ngulurin kita. Memotoh, meceki muah kiu-kiu. Né janian, ia demen ngutak-ngatik angka mistik. Masang buntut. Raos janiné toto gelap, kasingkat togél. Kenehné kadaut masang buntut sawiréh ukupanné gedé. Masang siu rupiah, yén tembus duang angka maan ukupan nem dasa tali rupiah. Tembus telung angka, maan ukupan telung atus séket tali rupiah. Tembus petang angka, maan ukupan duang yuta limang atus tali rupiah.
Terjemahan:
Jika dipilah-pilah dari dulu, banyak sudah uangnya Nang Molog habis digunakan untuk menyenangkan diri. Sabung ayam, berjudi dan bermain kartu. Sekarang, Ia suka negutak-atik angka mistik. Memasang buntut. Istilah sekarang toto gelap, disingkat togel. Rasa tertarik memasang togel karena hasilnya besar. Memasang seribu rupiah, jika benar dua angka dapat hasil enam puluh ribu rupiah. Tembus tiga angka, dapat hasil tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Tembus empat angka, dapat hasil dua juta lima ratus ribu rupiah.
Paragraph di atas menggambarkan watak Nang Molog yang suka berjudi. Judi yang akhir-akhir ini digelutinya disebut togel.
            “Mendepan bungut nyainé. Jeg cara céngcéng kebés mepeta. Yén nyai suba sing suka ngajak bli, megedi nya uli dini. Bli sing jejeh cerai, nu liu ada nak balu ngugu bli!” Nang Molog mamanes nyautin munyin kurenanné.
Terjemahannya:
 “diam! Seperti cengceng kebes ngomong. Kalau kamu sudah tidak suka denganku, pergi kamu dari sini. Bli tidak takut cerai, masih banyak janda yang percaya sama Bli!”  Nang Molog memanas menjawab kata-kata istrinya
Dari kutipan di atas jelas digambarkan bahwa Nang Molog wataknya keras,  tidak bisa dikasi tahu atau susah dinasihati. Ia juga suka berkata-kata kasar kepada istrinya.
b.      Men Molog
Pada cerpen ini, Men Molog berperan sebagai tokoh sekunder yang membantu mempertegas keberadaan tokoh utama. Dalam cerita ini watak Men Molog mulanya digambarkan dengan wanita yang penuh kesabaran dan selalu menasihati suaminya. Namun karena tidak pernah dihiraukan serta dihiraukan,dan bahkan dibentak-bentak hilanglah kesabaran Men Molog. Penggambaran watak Men Molog ini dilukiskan dari ucapannya pada dialog sebagai berikut:
“Bli, SD gén tusing tamat, jeg masé masebeng duwug ngrumus. Cén buktiné ukupan beliné. Kudang pipis suba telah anggon ngulurang sang kita. Cén sekaya uli memotoh, ba mabukti pragat nelahang. Carik suba ilang, pabeliné pragat punduhang cukong togélé. Sadar Bli. Suwud memotoh. Kadén suba orina ajak Pak Mangku Pastika, mamotoh ento melanggar pasal 303. Nyanan bisa mapenjara, Bli!”
Terjemahan:
 “Bli, SD saja tidak tamat, kok bertampang pintar main rumus. Mana bukti pendapatan Bli? Sudah berapa uang yang  habis dipakai mengisi keinginan Bli? Mana hasil dari berjudi? Sudah terbukti selalu menghabiskan. Sawah sudah hilang, hasil jualnya dikumpulkan cukong togel. Sadar Bli! Berhenti berjudi. Kan sudah diberi tahu oleh pak Mangku Pastika. Berjudi itu melanggar pasal 303. Nanti bisa dipenjara Bli!”
Kutipan di atas jelas digambarkan watak Men Molog yang sabar  menghadapi suaminya yang menjadi malas bekerja karena sibuk merumus togel.
c.       Luh Jembung
Luh Jembung dalam cerpen ini merupakan tokoh pembantu yang melengkapi cerita. Sebagai pedagang, watak Luh Jembung cukup penyabar.
d.      Celuluk Bergolo
Cerluluk Bergolo merupakan tokoh akhir yang diceritakan dalam cerpen Dewan togel. Wataknya suka menggoda dan sedikit humoris.
“Wong édan. Jlema buduh. Mai nagih nomer, sinah ba keliru. Tlektekang jep!” Raosné Celuluk Bergolo sinambi ngusud sirahné sané tan parambut.
“Napi tlektekang tiang, Ratu?”
“Né tolih tendas ingongé, nganti sing misi bulu, kedas lengar ulian ngrumus togél, patuh masé tusing taén ngukup. Ingong masé strés sing taén ngukup!”
Terjemahannya:
“wong edan. Orang gila. Kesini minta nomor, sudah pasti keliru. Coba perhatikan ini!” kata Celuluk Bergolo sambil mengelus kepalanya yang tak berambut.
“apa yang harus saya perhatikan, Ratu?”
“Lihat kepalaku, sampai botak tak beisi bulu, bersih botak karena merumus togel, sama juga tidak pernah menang. Aku juga stress tidak pernah menang!”
Watak celuluk bergolo yang humoris jelas terlihat saat Ia berusaha meyakinkan Nang Molog bahwa dirinya mempunyai nasib yang sama dengannya.
2.5. Latar
Latar atau setting mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu dan hubungan social tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan. Latar bukan hanya menunjukkan tempat, tetapi juga menggambarkan waktu tertentu. Menurut Kenney dan Sudjiman,  latar meliputi penggambaran geografis, termasuk tofograpi pemandangan, sampai pada perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari tokoh-tokoh, waktu terjadinya kejadian, sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, dan emosional para tokoh.
Fungsi latar adalah memberikan informasi tentang situasi bagaimana adanya, merupakan proyeksi keadaan batin para tokoh. Latar kaitannya dengan unsure lain sebagai penokohan. Gambaran latar yang tepat bisa menggambarkan watak tokoh. Latar dan unsure-unsur lain saling berkaitan dan melengkapi agar bisa menampilkan cerita yang utuh.
Kemunculan latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh. Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak, membutuhkan keadaan untuk menunjukkan kehadirannya.
Latar dalam cerpen “Dewan Togel” meliputi aspek waktu, ruang dan suasana.
a.       Waktu
            Dalam cerpen Dewan Togel menggunakan istilah waktu dalam latar ceritanya seperti yang diuraikan dalam kutipan berikut ini:
Semengan mara bangun Nang Molog marasa kéweh. Biasané kopi lan nasi bubuh anggon panyemeng suba sadia. Né jani kasurya, mamuyung, tusing ada apa.
Terjemahannya:
Pagi-pagi baru bangun Nang Molog merasa kesulitan. Biasanya kopi dan bubur yang dipakai sarapan sudah siap. Hari sudah semakin siang, kosong, tidak ada apa.

            Kutipan di atas jelas sekali menerangkan tentang waktu yaitu pagi-pagi saat Nang Molog baru bangun dari tidurnya sampai pada siang hari perutnya belum terisi sesuatu yang bisa dimakan.
            Surya sampun surub ring pakolemané. Sanja kagentos peteng. Nang Molog mataki-taki jagi nangkil ka Pura Prajapati. Nangkil ring sang nuénang sétra pacang nunas nomer jitu. Kabenengan nuju tilem ngaé guminé srebi. Yadiastun peteng, Nang Molog tusing makirig nyang atapak. Ia tetep majalan nuluh peteng.
Terjemahannya:
 Matahari sudah tenggelan. Sore telah berganti malam. Nang Molog bersiap-siap akan nangkil ke pura Prajapati. Nangkil kepada penunggu kuburan akan meminta nomor jitu.  Kebetulan hari tilem, membuat bumi gelap. Walaupun malam Nang Molog tidak bergeser walau sejengkal. Ia tetap berjalan menusuru malam.
        Pada paragraph tersebut juga terdapat latar waktu yang dijabarkan oleh pengarangnya yaitu pada saat matahari mulai tenggelam. Saat sore berganti malam Nang Molog menjalankan niatnya yang sudah matang tanpa takut dengan kegelapan malam.
b.      Tempat
            Dalam cerpen dewan Togel, ada beberapa tempat yang digunakan sebagai latarnya misalnya di ruang tamu, bale daja, di warung, dan pura Prajapati. Lebih jelasnya, latar tempat yang digunakan dalam cerita Dewan Togel ini adalah sebagai berikut:
            Sasukat muduhin ngrumus togél, sewai dingeh tiang Nang Molog mauyutan ajak kurenanné. Kabenengan tiang mapisaga ngajak Nang Molog. Ané sanget dadi biuta, pamekasné manut tuturné Mén Molog, ban bikas kurenanné ané kiul magarapan ka carik. Pragat natakin jagut di kamar tamiu tur seleg ngrumus ngajak timpal-timpalné ané patuh paturu ngalih kasugihan ulian ipian.

Terjemahannya:
Sejak menggilai rumus togel, setiap hari saya dengar Nang Molog rebut dengan istrinya. Kebetulan saya bertetangga dengan Nang Molog. Yang sangat menjadi masalah, kata Men Molog, karena perilaku suaminya yang malas bekerja ke sawah. Hanya bertopang dagu di ruang tamu sambil serius merumus dengan teman-temannya yang sama mencari kekayaan dari mimpi.
                        Dapat dilihat bahwa latar tempat yang diambil adalah di ruang tamu bersama teman-temannya yang sama suka togel.
                        Mén Molog ané man munyi pesak-pesak uli muaninné ngabrés ngambul. Yéh paninggalané macécéh ngamengmeng naanang sebet. Malaib ka balé daja, munduhang panganggo. Tusing buin makeloné Mén Molog magedi uli jumah muaninné.
                                               
                                                Terjemahannya:
Men Molog yang mendapat kata-kata kasar dari suaminya menjadi merajuk. Air matanya berlinang berkunang-kunang menahan sakit. Lari ke bale daja, mengumpulkan pakaian. Tidak lama setelahnya Men Molog pergi dari rumah suaminya.
                        Dari uraian di atas dapat dipastikan bahwa latar tempat yang digunakn dalam kutipan cerpen di atas adalah di bale daja.
                        Mabekel limang tali rupiah, ia laut ngojog warung Luh Jembung. Di warung, ia laut mesen kopi, roko lan bubuh atékor. Disubané suud madaran, Nang Molog maekin dagangé tur kemik-kemik.


Terjemahannya:
Berbekal lima ribu rupiah, Ia lalu pergi ke warung Luh Jembung. Di warung. Ia lalu memesan kopi, rokok dan bubur. Setelah selesai makan, Nang Molog mendekati dagangnya dan berbisik.
                        Kutipan diatas dengan jelas menjelaskan bahwa latar tempat yang dipakai adalah di warung Luh Jembung setelah Ia ditinggal oleh istrinya.
                        Sawatara majalan suba duang kilo, neked ia di tongos ané katuju. Sétra Gandamayu, Désa Pakraman Buung Kalah.
                        Nang Molog gagéson mesuang asep. Mesuang canang sari. Suba suwud ngenyit dupa, ia lantas negak masila di arep Pura Prajapati. Nganutin tata titi panca sembah. Paling simalu asana, nglantur pranayama, puja Tri Sandhya rumaris mabhakti. Risampun wusan mabhakti nglanturang yoga semadhi.
Terjemahannya:
 Kira-kira sudah berjalan dua kilo, sampailah Ia di tempat yang dituju. Setra Gandamayu. Desa Buung Kalah.
Nang Molog cepat-cepat mengeluarkan dupa, mengeluarkan canang sari. Setelah itu menyalakan dupa. Lalu Ia duduk bersila di depan pura Prajapati. Mengikuti tata cara panca sembah paling pertama asana, selanjtnya pranayanama, puja tri sandhya lalu sembahyang. Setelah selesai sembahyang melanjutkan dengan yoga semadhi
          Kutipan di atas dengan jelas memaparkan bahwa latar tempat yang diambil adalah di pura Prajapati yang terletak di desa Buung Kalah. Jadi secara keseluruhan latar tempat yang diambil benama desa Buung Kalah. Demikian latar tempat yang terdapat dalam cerpen Dewan togel
c.       Suasana
            Suasana yang digambarkan dalam cerpen Dewan Togel ini adalah suasana yang menegangkan. Ketegangan yang pertama saat  Nang Molog dan Istrinya bertengkar setelah itu suasana menegangkan yang kedua terjadi saat Nang Molog bertemu dengan Celuluk Bergolo di pura Prajapati tempatnya bersemedi. Berikut ini merupakan gambaran suasana menegangkan yang terdapat dalan cerpen tersebut:
“Men tusing precaya megedi nyai uli dini. Mekad! Nyeb cang nepukin nyai lebian munyi. Lan uli jani tentuang idupé pedidi. Cang sing nyeh cerai ngajak nyai. Nu liu nak ngugu bli, nak bajang muang nak balu makejang nu dot ngajak bli. Med cang masomahan ngajak nyai ané suba péyot. Jemak panganggoné, megedi!”


Terjemahannya:
 “kalau tidak percaya pergi kamu dari sini. Pergi! Muak saya melihat kamu banyakan omong. Mulai sekarang tentukan hidup sendiri-sendiri. Saya tidak takut cerai dengan kamu. Masih banyak yang mempercayai Bli, orang remaja dan orang janda semua masih ingin dengan Bli. Bosan aku beristrikan kamu yang sudah peot. Ambil pakaiannya. Pergi!”
            Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa suasana menegangkan sedang terjadi diantara Nang Molog dengan Istrinya. Nang Molog yang sedang marah mengusir istrinya dari rumah yang menyebabkan suasana di rumah mereka menjadi kurang baik. Suasana menegangkan juga terjadi saat-saat terakhir misalnya:
           Tondén limang menit, Nang Molog tangkejut. Di arepné malejer Celuluk, réncang Ida Bhatari Dhurga.
            “Manusa, apa kal alih mai mameteng buina magagapan laklak pikang?” Celuluk punika matakén.
            “Nawegang, sira iring tiang mabaosan? Uleng tiang jagi mabaosan ngiring ida sasuhunan sané malingga malinggih, maparahyangan driki ring Pura Prajapati. Men sapa sira ragané ngoda tapa semadhin tiang?” Nang Molog ngwanénang déwék matakon.

Terjemahannya:
Belum lima menit, Nang Molog terkejut. Di depannya berdiri Celuluk, anak buah Bhatari Dhurga.
“Manusia, apa yang kamu cari kemari malam-malam apalagi membawa laklak pikang?” celuluk itu bertanya.
“Maaf, dengan siapa saya berbicara? Rencananya saya ingin berbicara kepada sasuhunan yang menguasai tempat ini di pura Prajapati. Lalu, siapa anda yang menggoda tapa semedi saya?” Nang Molog memberanikan diri bertanya.
                        Dari percakapan di atas juga terlihat suasana yang menegangkan dimana saat Nang Molog bertapa, datanglah penunggu pura Prajapati yang diketahui berwajah seram. Nang Molog pun memberanikan diri bertanya kepada celuluk yang menggodanya itu. Demikianlah latar suasana yang dapat dilukiskan dalam cerpen tersebut.
2.6. Tema
Sumardjo dan Saini mengemukakan definisi tema adalah ide dari sebuah cerita (1996 :56). Kedudukan tema dalam suatu cerpen sangat penting. Tema merupakan inti cerita yang mengikat keseluruhan unsure-unsure intrinsik. Kehadiran unsure-unsure seperti alur, latar, penokohan dan lain-lain adalah sebagai pendukung tema.
Untuk mendapatkan memahani suatu cerpen, pembaca terlebih dahulu menentukan unsure intrinsik lainnya karena pengarang jarang sekali mengungkapkan tema secara langsung dalam cerita. Terkadang tema dapat dianalisis dari dialog para tokoh, pemikiran dan perasaan-perasaan kejadian dan dn latar cerita untuk mempertegas tema.
Dari uraian di atas. Tema yang diangkat dalam cerpen Dewan Togel adalah tema social-buadaya. Hal ini dapat dilihat dari uraian berikut:
Sasukat muduhin ngrumus togél, sewai dingeh tiang Nang Molog mauyutan ajak kurenanné. Kabenengan tiang mapisaga ngajak Nang Molog. Ané sanget dadi biuta, pamekasné manut tuturné Mén Molog, ban bikas kurenanné ané kiul magarapan ka carik. Pragat natakin jagut di kamar tamiu tur seleg ngrumus ngajak timpal-timpalné ané patuh paturu ngalih kasugihan ulian ipian. Sujatinné Nang Molog ajak timpal-timpalné tusing taén ngukup. Nomorné setata maimpas.
Terjemahannya:
Sejak menggilai rumus togel, setiap hari saya dengar Nang Molog ribut dengan istrinya. Kebetulan saya bertetangga dengan Nang Molog. Yang sangat menjadi masalah, kata Men Molog, karena perilaku suaminya yang malas bekerja ke sawah. Hanya bertopang dagu di ruang tamu sambil serius merumus dengan teman-temannya yang sama mencari kekayaan dari mimpi. Sebenarnya Nang Molog dan teman-temannya tidak pernah beruntung. Nomornya selalu berlawanan.
            Dari penjelasan di atas dapat dibuktikan bahwa tema yang digunakan dalam cerpen Dewan Togel ini adalah social budaya. Hal ini dikarenakan dalam tema ini menyangkut tentang kebersamaan yang dilakukan sesama penjudi togel yang selalu saling mempengaruhi dalam setiap kegiatan yang meraka lakukan. Misalnya saling bertukar pikiran tentang angka-angka yang akan keluar nantinya, menebak syair-syair dan lain sebagainya. Selain itu budaya judi secara tidak langsung menyebar di lingkungan kehidupan masyarakat Nang Molog. Demikian tema yang diambil dalam cerpen Dewan Togel.
2.7. Amanat
Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Akhir permasalah yang timbul dalam sebuah cerita, keduanya disebut amanat. Di dalam sebuah cerita, gagasan atau pokok persoalan dituangkan sedemikian rupa oleh pengarangnya sehingga gagasan itu mendasari seluuh cerita. Gagasan yang mendasari seluruh cerita ini dipertegas oleh pengarangnya melalui solusi bagi pokok persoalan itu. Dengan kata lain solusi yang dimunculkan pengaranngnya itu dimaksudkan untuk memecahkan pokok persoalan, yang didalamnya akan terlibat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Hal inilah yang dimaksudkan dengan amanat. Dengan demikian, amanat merupakan keinginan pengarang untuk menyampaikan pesan atau nasihat kepada pembacanya.
Jadi amanat pokok yang terdapat dalam cerpen Dewan Togel  karya I Made Sugianto adalah tidak ada kekayaan yang dihasilkan dari judi. Judi bukannya membawa kenikmatan melainkan penderitaan yang secara perlahan menggerogoti kekayaan yang dimiliki.
Amanat pokok/utama ini kemudian diperjelas atau diuraikan dalam ceritanya. Akibatnya muncullah amanat-amanat lain yang mempertegas amanat utama itu. Amanat-amanat yang dimaksud itu contohnya:
“Bli, SD gén tusing tamat, jeg masé masebeng duwug ngrumus. Cén buktiné ukupan beliné. Kudang pipis suba telah anggon ngulurang sang kita. Cén sekaya uli memotoh, ba mabukti pragat nelahang. Carik suba ilang, pabeliné pragat punduhang cukong togélé. Sadar Bli. Suwud memotoh. Kadén suba orina ajak Pak Mangku Pastika, mamotoh ento melanggar pasal 303. Nyanan bisa mapenjara, Bli!”
Terjemahan:
“Bli, SD saja tidak tamat, kok bertampang pintar main rumus. Mana bukti pendapatan Bli? Sudah berapa uang yang sudah habis pake mengisi keinginan Bli? Mana hasil dari berjudi? Sudah terbukti selalu menghabiskan. Sawah sudah hilang, hasil jualnya dikumpulkan cukong togel. Sadar Bli! Berhenti berjudi. Kan sudah diberi tahu oleh pak Mangku Pastika. Berjudi itu melanggar pasal 303. Nanti bisa dipenjara Bli!”
Pesan atau amanat yang disampaikan oleh pengarang pada kutipan di atas adalah judi itu melanggar undang-undang. Selain itu judi tidak pernah mendapatkan keuntungan, melainkan hanya menghabiskan kekayaan sedikit demi sedikit. Demikian amanat yang disampaikan pengarang baik secara langsung maupun tidak langsng dari cerpen tersebut.


BAB III
ANALISIS CERPEN DEWAN TOGEL BERDASARKAN SOSIOLOGI SASTRA

Sosiologi sastra merupakan suatu ilmu interdisipliner (lintasdisiplin), antara sosiologi dan ilmu sastra. Pada mulanya baik dalam konteks sosiologi maupun ilmu sastra, sosiologi sastra merupakan suatu disiplin ilmu yang agak terabaikan. Ada kemungkinan penyebabnya karena objek penelitiannya yang diangap unik dan eksklusif. Di samping itu, secara historis memang sosiologi sastra merupakan disiplin ilmu yang relatif baru berbeda dengan sosiologi pendidikan yang sudah dikenal lebih dulu. Beranjak dari etimologi sosiologi adalah berasal dari kata sosio atau society yang bermakna masyarakat dan logi atau logos yang artinya ilmu. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat atau ilmu tentang kehidupan masyarakat (Saraswati, 2003: 1 - 2).
Dalam hubungan antara karya sastra dengan kenyataan, Teeuw (1988:228) menjelaskan bahwa karya sastra lahir dari peneladanan terhadap kenyataan, tetapi sekaligus juga model kenyataan. Bukan hanya satra yang meniru kenyataan, tetapi sering kali juga terjadi sebuah norma keindahan yang diakui masyarakat  tertentu yang terungkap dalam karya seni, yang kemudian dipakai sebagai tolok ukur untuk menyataan.
Kajian sosiologi karya sastra memiliki kecenderungan untuk tidak melihat karya sastra sebagai suatu keseluruhan, tetapi hanya tertarik kepada unsur-unsur sosiobudaya yang ada di dalam karya sastra. Kajian hanya mendasarkan pada isi cerita, tanpa mempersoalkan struktur karya sastra. Oleh karena itu, menurut Junus (1986:3-5), sosiologi karya sastra yang melihat karya sastra sebagai dokumen sosial budaya ditandai oleh:
a.    unsur (isi/cerita) dalam karya diambil terlepas dari hubungannya dengan unsur lain. Unsur tersebut secara langsung dihubungkan dengan suatu unsur sosiobudaya karena karya itu hanya memindahkan unsur itu ke dalam dirinya.
b.    Pendekatan ini dapat mengambil citra tentang sesuatu, misalnya tentang perempuan, lelaki, orang asing, tradisi, dunia modern, dan lain-lain, dalam suatu karya sastra atau dalam beberapa karya yang mungkin dilihat dalam perspektif perkembangan.
c.    Pendekatan ini dapat mengambil  motif atau tema yang terdapat dalam karya sastra dalam hubungannya dengan kenyataan di luar karya sastra. 



3.1.  Aspek Agama
Dari sudut sosiologi, agama adalah tindakan-tindakan pada suatu sistem sosial dalam diri orang-orang yang percaya pada suatu kekuatan tertentu [yang supra natural] dan berfungsi agar dirinya dan masyarakat keselamatan. Agama merupakan suatu sistem sosial yang dipraktekkan masyarakat; sistem sosial yang dibuat manusia [pendiri atau pengajar utama agama] untuk berbhakti dan menyembah Ilahi. Sistem sosial tersebut dipercayai merupakan perintah, hukum, kata-kata yang langsung datang dari Ilahi agar manusia mentaatinya. Perintah dan kata-kata tersebut mempunyai kekuatan Ilahi sehingga dapat difungsikan untuk mencapai atau memperoleh keselamatan [dalam arti seluas-luasnya] secara pribadi dan masyarakat.
Dari sudut kebudayaan, agama adalah salah satu hasil budaya. Artinya, manusia membentuk atau menciptakan agama karena kemajuan dan perkembangan budaya serta peradabannya. Dengan itu, semua bentuk-bentuk penyembahan kepada Ilahi [misalnya nyanyian, pujian, tarian, mantra, dan lain-lain] merupakan unsur-unsur kebudayaan. Dengan demikian, jika manusia mengalami kemajuan, perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan kebudayaan, maka agama pun mengalami hal yang sama. Sehingga hal-hal yang berhubungan dengan ritus, nyanyian, cara penyembahan [bahkan ajaran-ajaran] dalam agama-agama perlu diadaptasi sesuai dengan sikon dan perubahan sosio-kultural masyarakat.
Istilah religiusitas berasal dari bahasa Latin yaitu religare yang berarti mengikat, religio berarti ikatan dan pengikatan diri kepada Tuhan atau lebih tepat manusia menerima ikatan Tuhan sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan (Djojosantoso, 1991: 3). Mangunwijaya (1982: 54-55) mengatakan bahwa religiositas adalah konsep keagamaan yang menyebabkan manusia bersikap religius.
Religius merupakan bagian dari kebudayaan dan sistem dari suatu agama yang satu dengan agama yang lain memiliki sistem religi yang berbeda. Religius merupakan wujud seseorang berdoa untuk yakin dan percaya kepada Tuhan sehingga keadaan emosi mengalami ketenangan dan kedamaian. Keterkaitan manusia terhadap Tuhan sebagai sumber ketentraman dan kebahagiaan dengan melakukan tindakan sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan agama dalam argumentasi  rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang kebesaran Tuhan dalam arti mutlak, dan kebesaran manusia dalam arti relatif selaku makhluk. Dalam sebuah pengantar bukunya, Nurcholis Madjid (1997) mengatakan bahwa setiap manusia memiliki naluri religiusitas naluri untuk berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya menjadi lingkungan hidup itu sendiri.
Karena setiap manusia pasti memiliki keinsafan apa yang dianggap “makna hidup”. Makna hidup yang hakiki dan sejati itu ada. Agama sebagai system keyakinan menyediakan konsep tentang hakikat tentang makna hidup itu, tetapi ia tidak terdapat pada segi-segi formal atau bentuk lahiriah keagamaan. Ia berada di baliknya. Berdasarkan hal itu formalitas harus “ditembus”, batasbatas lahiriah harus “diseberangi”. Kemampuan melampaui segi-segi itu (niscaya) akan berdampak pada tumbuhnya sikap-sikap religiusindividu maupun masyarakat yang lebih sejalan dengan makna dan maksud hakiki ajaran agama.
Dalam cerpen Dewan Togel ada unsure religius yang dilukiskan oleh pengarangnya, seperti yang diungkapkan dalam kutipan berikut:
Nang Molog gagéson mesuang asep. Mesuang canang sari. Suba suwud ngenyit dupa, ia lantas negak masila di arep Pura Prajapati. Nganutin tata titi panca sembah. Paling simalu asana, nglantur pranayama, puja Tri Sandhya rumaris mabhakti. Risampun wusan mabhakti nglanturang yoga semadhi.
                          Terjemahannya:
                          Nang Molog cepat-cepat mengeluarkan dupa, mengeluarkan canang sari. Setelah itu menyalakan dupa. Lalu Ia duduk bersila di depan pura Prajapati. Mengikuti tata cara panca sembah paling pertama asana, selanjutnya pranayanama, puja tri sandhya lalu sembahyang. Setelah selesai sembahyang melanjutkan dengan yoga semadhi
          Kutipan di atas menunjukkan adanya unsure religious yang dipaparkan oleh pengarang. Pengarang menuliskan cerpennya berdasarkan  kenyataan yang terjadi di masyarakat. Khususnya masyarakat Bali. Yang paling menonjol dilukiskan adalah upacaranya (ritual). Melakukan suatu upacara merupakan bagian akhir dari tiga kerangka dasar agama Hindu setelah Tatwa dan Susila. Kutipan di atas menggambarkan tata cara bersembahyang orang yang Bali yang memang benar dalam kenyataannya memang seperti itu prosesnya. Pertama pelaksanakan  puja tri sadhya, kemudian melaksanakan panca sembah  yang teriri dari lima tahapan yaitu:
a.       Dengan tangan kosong (sembah puyung). Cakupkan tangan kosong dan pusatkan pikiran.
b.      Sembahyang dengan bunga, ditujukan kepada Hyang Widhi dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Aditya.
c.       Sembahyang dengan kawangen. Bila tidak ada, yang dipakai adalah bunga. Sembahyang ini ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan itu.
d.      Sembahyang dengan bunga atau kawangen untuk memohon waranugraha.
e.       Sembahyang dengan cakupan tangan kosong, persis seperti yang pertama.
          Inilah yang menandakan bahwa unsure religius atau agama melekat kuat dalam cerpen tersebut. Selain itu juga ditekankan tentang keyakinan (sradha) yaitu percaya dengan adanya Tuhan yang dalam hal ini disimbolkan dengan Ida Bhatari Dhurga (dewi Dhurga) sebagai manifestasi Tuhan.
3.2. Aspek Magis
Magis berarti ilmu sihir atau ilmu gaib. Ilmu gaib diyakini dpat menimbulkan kekuatan gaib sehingga dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran maupun tingkah laku manusia. Lebih lanjut Koentjaraningrat (1981:234) menyatakan bahwa dengan ilmu gaib, seseorang bisa mencapai maksud atau keinginan dengan cara-cara gaib karena dengan cara pengetahuan biasa. Teknologi,atau ilmu pengetahuan tidak bisa mencapai maksudnya. Kemudian Suteja (1989:138) menambahkan bahwa magis berhubungan dengan mistik atau kekuatan-kekuatan gaib terentu, yang irrasional sifatnya untuk mempengaruhi seseorang.
“Yén Makita sugih tur ngukup buntut, kema nunas nomor ka sétra Gandamayu, pati kapaica nomor jitu olih déwan togélé!” Imbuh dagangé.
Tangkejut Nang Molog ningehang tutur dagangé. Prajani ia mayah anggehan. “Péh lemahé jani buung masang togél. Pocol ngrumus, pocol ngelah angka jitu. Kéwala ada beneh tutur dagangé. Nyanan lakar mategar nyeraya nangkil ring déwan togél sané malingga malinggih ring sétra Gandamayu. Nyén nawang ida suéca. Cara sang Arjuna metapa di Gunung Indrakila polih Panugrahan Panah Pasupati. Iraga nyeraya di sétra Gandamayu, maan panugrahan angka jitu. Bani nyilihang pipis di LPD anggon masang togél. Pang taén ngukup liu, tur cukong togélé bangkrut. Ratu bhataran tiang sané nuénang togél, nyanan wengi tiang jagi nangkil, lédangang picayang tiang nomer jitu!” Ngamikmik Nang Molog nunas ica sambilanga mentas ngalih umah.
Terjemahannya:
 Kalau ingin kaya dan bisa menang togel, kesana minta nomor ke Setra Gandamayu, pasti diberikan nomor jitu oleh dewan togelnya!”tambah dagangnya. Terkejut Nang Molog mendengar kata-kata dagang tersebut. Langsung dibayar bonnya
 “wah, hari ini tidak jadi pasang togel. Rugi ngerumus, rugi punya angka jitu. Tetapi ada benarnya kata dagangnya. Nanti akan nangkil pada dewan togel yang bersemayam di setra Gandamayu. Siapa tau beliau memberkati. Seperi sang Arjuna bertapa di gunung Indrakila mendapat anugrah panah sakti. Aku datang ke setra Gandamayu, dapat anugrah nomor jitu. Berani meminjam uang di LPD pakai pasang togel. Agar pernah menang banyak dan cukong tgelnya bangkrut. Ratu Bhataraku yang mempunyai togel, nanti malam saya akan nangkil. Sudikah menganugrahkanku nomor jitu!” komat-kamit Nang moloh minta anugra sambil berjalan mencari rumah.
Berdasarkan kutipan diatas dijelaskan bahwa Nang Molog yang sudah kehabisan akal mempercayai kata-kata pedagang yang meyuruhnya meminta nomor di tempat yang angker.  Jika dihubungkan dengan kenyataan sehari-hari di masyarakat memang benar adanya. Kepercayaan pada hal-hal yang mistik seperti itu memang masih dipercaya sampai saat ini.
3.3. Aspek Sosial Kemasyarakatan
Menurut Bussman (dalam Djajasudarma, 1999: 24) aspek (aspectus) adalah pandangan cara melakukan sesuatu. Menurut Djajasudarma (1999: 26) aspek adalah cara memandang struktur temporal intern suatu situasi yang dapat berupa keadaan, peristiwa, dan proses. Keadaan bersifat statis, sedangkan peristiwa bersifat dinamis. Peristiwa dikatakan dinamis jika dipandang sedang berlangsung (imperaktif). Sosialartinya kebersamaan yang  melekat pada individu (Soelaeman, 2008: 123). Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa aspek social adalah cara pandang suatu situasi, keadaan, dan peristiwa kebersamann dalam masyarakat. Menurut Soelaeman, 2008: 173) aspek sosial dibedakan menjadi beberapa bagian yang diuraiakan sebagai berikut.
a.       Budaya yaitu nilai, simbol, norma, dan pandangan hidup umumnya dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat.
b.      Pedesaan dan perkotaan yaitu suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat sifat yang khas
c.        Ekonomi, meliputi kemiskinan adalah kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.  Dikatakan berada di garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Adapun aspek sosial dalam penelitian ini akan difokuskan pada aspek budaya dan ekonomi. Alasan peneliti memilih masalah budaya dan ekonomi karena dalam cerpen Dewan Togel karya I Made Sugianto mengandung aspek sosial budaya dan ekonomi yang paling dominan.
a.    Aspek Social Budaya
Sasukat buin kitip-kitip ada togél, Pan Molog seleg melajah maitung, cara anak sekolahan sané maan peplajahan Matematika lan Fisika. Ikun ngrumus. Boya ja rumus phytagoras muang rumus aljabar. Nanging rumus buntut. Dé kénkéné yén tlektekan solahné cara anak inguh, anak buduh. Dong tegarang pinehang, ada tain cekcek meglebug orahanga kode alam. Ada cicing magonggang masé orahanga kode alam. Jeg pokokné di otak Nanang Mologé tuwah kode alam lan angka-angka. Masang buntut boya ja teka ngojog warung, nanging masang liwat SMS.
       
Terjemahannya:
 Semenjak lagi ada togel, Nang Molog serius belajar berhitung, seperti anak sekolahan yang mendapat pelajaran matematika dan fisika. Serius merumus. Bukannya rumus phytagoras dan rumus aljabar. Namun  rumus togel. Kadang-kadang jika diperhatikan tingkahnya seperti orang pusing, orang gila. Coba pikirkan, kotoran cicak jatuh dikatakan kode alam, ada anjing menggonggong juga dikatakan kode alam. Pokoknya di kepalanya Nang Molog hanya kode alam dan angka-angka. Memasang togel bukannya datang menuju warung, namun memasang lewat SMS
Dari uraian di atas nampak jelas diuraikan bahwa pengarang menuliskan cerita ini berdasarkan realita yang benar-benar terjadi di masyarakat. Jika dihubungkan dengan keadaan di masyarakat, sampai saat ini budaya memasang togel ini makin banyak. Walaupun sudah jelas-jelas dilarang, namun budaya memasang togel ini tidak kunjung surut. Masih banyak masyarakat secara diam-diam masih menggeluti pekerjaan ini. Apalagi saat ini sudah didukung dengan teknologi yang canggih seperti handphone Masyarakat bisa lebih mudah melakukan kegiatan tersebut secara rahasia. Sehingga budaya judi togel ini sulit dimusnahkan.
b.    Aspek social-ekonomi
Yén étang-étang uli ilu, liu suba pipisné Nang Molog telah anggona ngulurin kita. Memotoh, meceki muah kiu-kiu. Né janian, ia demen ngutak-ngatik angka mistik. Masang buntut. Raos janiné toto gelap, kasingkat togél. Kenehné kadaut masang buntut sawiréh ukupanné gedé. Masang siu rupiah, yén tembus duang angka maan ukupan nem dasa tali rupiah. Tembus telung angka, maan ukupan telung atus séket tali rupiah. Tembus petang angka, maan ukupan duang yuta limang atus tali rupiah.

Terjemahan:
Jika dipilah-pilah dari dulu, banyak sudah uangnya Nang Molog habis digunkan untuk menyenangkan diri. Sabung ayam, berjudi dan bermain kartu . sekarang, Ia suka negutak-atik angka mistik. Memasang buntut. Istilah sekarang toto gelap, disingkat togel. Rasanya tertarik memasang togel karena hasilnya besar. Memasang seribu rupiah, jika benar dua angka dapat hasil enam puluh ribu rupiah. Tembus tiga angka, dapat hasil tiga rstus lima puluh ribu rupiah. Tembus empat angka, dapat hasil dua juta lima ratus ribu rupiah.
Dari kutipan tersebut dengan jelas diuraikan bahwa dari segi ekonomi, pendapatan  yang bisa dihasilkan oleh Nang Molog jika benar menebak angka sangat besar bahkan melebihi penghasilannya pada umumnya. Karena iming-iming itulah Nang Molog sampai rela belajar merumus angka demi meningkatkan perekonomian keluargaya dari judi. Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, togel memang dapat meningkatkan perekonomian jika beruntung. Dari pengeluaran yang sangat minimal bisa mendapatkan hasil yang melimpah. Maka dari itu pengarang mencoba menggambarkan kenyataan yang ada di masyarakat. Di Bali khususnya, togel memang menjadi jalan alternative untuk mencari penghasilan lebih. Dalam kenyataannya banyak contoh di masyarakat yang sukses menjalankan togel walaupun dengan cara adu nasib atau untung-untungan. Tidak jarang pula kita mendengar ada masyarakat dari kalangan ekonomi ke bawah menjadi kaya mendadak karena menang togel.













BAB IV
                                                          SIMPULAN DAN SARAN                            
4.1. Simpulan
            Berdasarkan analisis dan uraian di depan, dapat disimpulkan bawa cerpen Dewan Togel yang dikarang oleh I Made Sugianto adalah cerpen yang memiliki kelebihan tersendiri yang ditandai dengan berbagai aspek yang mendukung baik itu dibidang agama, mistik maupun kehidupan social budaya. Dalam cerpen tersebut pengarang memberikan nuansa berbeda pada ending cerpen yaitu akhir yang konyol namun menghibur. Bahasa yang digunakan juga mudah untuk dicerna oleh pembaca.
1.      Insiden dalam cerpen tersebut dibuat dengan wajar berdasarkan kejadian yang ada di masyarakat dan kemudian dikembangkan lagi sehingga menimbulkan insiden-insiden baru yang turut mendukung jalannya cerita.
2.      Alur yang digunakan dalam cerpen Dewan Togel adalah alur maju, sehingga cerita ini tidak terlalu rumit untuk diketahui jalan ceritanya.
3.      Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam cerpen tersebut ada empat orang  yaitu Nang Molog sebagai pelaku utama, kemudian Men Molog yang menjadi pemeran Kedua, Luh Jembung sebagai pelaku pelengkap, dan Celuluk Bergolo yang muncul pada akhir cerita.
4.      Latar yang digunakan dalam cerpen tersebut meliputi latar tempat, latar waktu dan suasana. Untuk latar tempat mengambil tempat secara umum di desa Buung Kalah sedangkan untuk lebih mendetail mengambil tempat di ruang tamu, bale daja, warung dan kuburan (pura Prajapati). Untuk latar waktu yang banyak dibicarakan adalah pada pagi hari, dan malam hari. Suasana yang terasa dalam cerpen tersebut adalah menegangkan. Puncak ketegangan adalah saat Nang Molog terkejut melihat celuluk berdiri di hadapannya.
5.      Tema yang diangkat dalam Cerpen Dewan Togel pada intinya adalah tentang social budaya.
6.      Amanat dalam cerpen tersebut adalah jangan mencari kekayaan dengan cara berjudi karena sampai kapanpun tidak aka nada orang yang sukses jika berjudi.
7.      Aspek sosiologi dalam cerpen tersebut meliputi tiga aspek yaitu aspek agama atau religious, aspek magis dan social-ekonomi
4.2. Saran
        Analisis terhadap cerpen Dewan Togel ini merupakan tahap awal penulis dalam mendalami suatu karya sastra dan tentunya masih jauh dari kata sempurna. Penulis mohon agar untuk kedepannya lebih banyak lagi berlatih menganalisis suatu karya sastra karena masih banyak kekurangan yang terdapat dalam analisis ini yang perlu mendapat perhatian penuh dari semua pihak misalnya pendekatan-pendekatan sastra dan lain-lain yang terkandung dalam cerpen ini dapat diterima oleh pembaca pada umumnya.




















DAFTAR PUSTAKA

Mandasari Apriliana. 2007. “Novel Gita Ning Nusa Alit". Denpasar. Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Sukada, Made. 1987. “Beberapa Aspek tentang Sastra”. Denpasar. Kayu Mas dan Yayasan Ilmu Seni Lesiba.
Anandakusuma, Sri Reshi. 1968. “Kamus Bahasa Bali” . CV. Kayumas Agung .
Bali Post minggu, 31 Oktober 2010

















DEWAN TOGEL
Yén étang-étang uli ilu, liu suba pipisné Nang Molog telah anggona ngulurin kita. Memotoh, meceki muah kiu-kiu. Né janian, ia demen ngutak-ngatik angka mistik. Masang buntut. Raos janiné toto gelap, kasingkat togél. Kenehné kadaut masang buntut sawiréh ukupanné gedé. Masang siu rupiah, yén tembus duang angka maan ukupan nem dasa tali rupiah. Tembus telung angka, maan ukupan telung atus séket tali rupiah. Tembus petang angka, maan ukupan duang yuta limang atus tali rupiah.
Sasukat buin kitip-kitip ada togél, Pan Molog seleg melajah maitung, cara anak sekolahan sané maan peplajahan Matematika lan Fisika. Ikun ngrumus. Boya ja rumus phytagoras muang rumus aljabar. Nanging rumus buntut. Dé kénkéné yén tlektekan solahné cara anak inguh, anak buduh. Dong tegarang pinehang, ada tain cekcek meglebug orahanga kode alam. Ada cicing magonggang masé orahanga kode alam. Jeg pokokné di otak Nanang Mologé tuwah kode alam lan angka-angka. Masang buntut boya ja teka ngojog warung, nanging masang liwat SMS.
Sasukat muduhin ngrumus togél, sewai dingeh tiang Nang Molog mauyutan ajak kurenanné. Kabenengan tiang mapisaga ngajak Nang Molog. Ané sanget dadi biuta, pamekasné manut tuturné Mén Molog, ban bikas kurenanné ané kiul magarapan ka carik. Pragat natakin jagut di kamar tamiu tur seleg ngrumus ngajak timpal-timpalné ané patuh paturu ngalih kasugihan ulian ipian. Sujatinné Nang Molog ajak timpal-timpalné tusing taén ngukup. Nomorné setata maimpas.
“Nomer sakit gedé, satu suba kuat, tujuh bakat matiang, jeg ékor pitu ngenah. Padahal rumusé suba nyak anut!” Nang Molog bangras, nomorné maimpas.
“Dija-dija satu ajak tujuhé kuat, Bli. To mainang mara cager!” Saut Mén Molog uli di gerombongné.
“Menepan bunguté, nyai tusing nawang urusan nak muani. Satu ajak tujuh kuat, jeg setata raosné ngémpélin!” Nang Molog nyautin sambilanga nyemak pulpén pacang nglanturang ngrumus.
“Bli, SD gén tusing tamat, jeg masé masebeng duwug ngrumus. Cén buktiné ukupan beliné. Kudang pipis suba telah anggon ngulurang sang kita. Cén sekaya uli memotoh, ba mabukti pragat nelahang. Carik suba ilang, pabeliné pragat punduhang cukong togélé. Sadar Bli. Suwud memotoh. Kadén suba orina ajak Pak Mangku Pastika, mamotoh ento melanggar pasal 303. Nyanan bisa mapenjara, Bli!”
“Mendepan bungut nyainé. Jeg cara céngcéng kebés mepeta. Yén nyai suba sing suka ngajak bli, megedi nya uli dini. Bli sing jejeh cerai, nu liu ada nak balu ngugu bli!” Nang Molog mamanes nyautin munyin kurenanné.
 “Apang tawang nah, anak mapenjara ento melah. To tolih Nang Kocong ajak pianakné pesu uli penjara ngamokohan. To cihna di penjara hidupé majamin!” Imbuh Nang Molog.
“Kéwéh ngomong ngajak bli. Nyén di guminé kodag mapenjara, yén sing anak buduh!” Mén Molog sing nyak kalah matungkas.
“Dingehang melah-melah nah. Jani anak megarang bebotoh togélé nagih mapenjara. Sawiréh idupné ngluwungan. Né satuané Nang Kocong. Dugas juk polisi, ada anak bani ngantinin ia mapenjara. Cukong togélé mesuang pipis selaé yuta anggon pesalin. Buina kulawargané sawilang redité maan uang dapur limang atus tali. Amat liang atiné mapenjara. Di bui man nasi, liu nyama nelokin tur ngabaang dedaran jaen-jaen. Pianak lan somah jumah masé idupné melah sawiréh bos togélé ngajih limang atus tali a minggu. I raga ané mabui masé man pipis selaé yuta. Pesu uli penjara sinah ngidang menahin kubu. Dong tolih, idupné Nang Kocong sasukat dadi pengepul togél. Umahné luung, ngrénéb cara naga banda!” Tutur Nang Molog dawa.
“Tiang sing ja angob, Bli. Sugih baan mamotoh tusing langgeng. Idupné sing tenang sawiréh uber dosa. Uber pak polisi. Bisa-bisa mati di bui!”
“Wé suud nyai mapeta. Da cang banga tutur. Tutur jani suba luntur. Widhi suba jani megedi. Menang majudi idupé lakarang happy!”
“Bogbog!”
“Men tusing precaya megedi nyai uli dini. Mekad! Nyeb cang nepukin nyai lebian munyi. Lan uli jani tentuang idupé pedidi. Cang sing nyeh cerai ngajak nyai. Nu liu nak ngugu bli, nak bajang muang nak balu makejang nu dot ngajak bli. Med cang masomahan ngajak nyai ané suba péyot. Jemak panganggoné, megedi!”
Mén Molog ané man munyi pesak-pesak uli muaninné ngabrés ngambul. Yéh paninggalané macécéh ngamengmeng naanang sebet. Malaib ka balé daja, munduhang panganggo. Tusing buin makeloné Mén Molog magedi uli jumah muaninné.
“Keciwa tiang ngayahin bli uli pidan. Nganti ngutang rerama ajak sanggah tiang nugtug bli ulian tresna. Ne jani sing mabukti janji-janji bliné, lén pidan lén masé ané jani. Jangkutin ba togélé. Muani tusing matanggungjawab. Pragat majudi!” Mén Molog ngamélmél magedi uli jumah muaninné.
“Mekadang iban nyainé. Luh liunan munyi. Buktiang mani nah, déwan togélé kal mabéla pati ngajak bli. Buin mani bli dadi anak sugih ulian liu ngukup togél. Sesanginé eli lakar buin ngantén apang iluh tetep balu maimbuh sing payu. Mulihang iban nyainé, kurenan tusing mendukung geginan somah. Mekad!” Nang Molog cegik-cegik nundung kurenanné.
Semengan mara bangun Nang Molog marasa kéweh. Biasané kopi lan nasi bubuh anggon panyemeng suba sadia. Né jani kasurya, mamuyung, tusing ada apa. Makeneh ngaé yéh panes anggon nyeduh kopi, gulané telah. Makita mubuh, mara malin gebeh, baasné telah. Nang Molog nyiksik bulu. Mabekel limang tali rupiah, ia laut ngojog warung Luh Jembung. Di warung, ia laut mesen kopi, roko lan bubuh atékor. Disubané suud madaran, Nang Molog maekin dagangé tur kemik-kemik.
“Diolas Luh, bang ja icang nganggeh. Bli tuah ngaba pipis limang tali rupiah. Yén né anggon bli mabayahan, nyanan bli tusing ngidang masang togél. Petengé jani bli pasti ngukup. Bli ngelah nomor jitu ulian ngipi rauhin leluhur,” pangidih Nang Molog tekén dagangé.
“Péh né bli sajan nak muani jail. Yén ngelah pipis, bayah malu anggehané. Bli suba liu ngelah utang dini. Kema ditu di tongos bliné masang togél tegarang nganggeh!” Dagangé nuturin Nang Molog.
“Cukong togélé demit, sing baanga naké nganggeh. Ento makrana bli mai mablanja sawiréh juari krana iluh ngemang langgananné nganggeh!”
“Cutetné tiang tusing ngemang buin bli nganggeh dini. Utang ané pidan-pidan tondén masé mabayah. Sabilang tagih pragat Kintamani–Pupuan. Buin mani buin puan. Uli jani tiang sing ngugu bli. Bayah malu anggehané!” Dagangé galak, ngopak Nang Molog.
“Ngidih olas, Luh. Kleteg bliné, lemahé jani beli pasti ngukup. Yén tembus pat angka, nyanan utang bliné makejang kalunasin tur maimbuh mayah bunga. Precaya ja, Luh!”
“Pasti ngukup, tiang jeg sangsi. Yén ngukupan kurenané tiang ngugu, ngukup togél joh para. Buina tiang ngorin bli, togélé ento ngrusak. Bisa-bisa ngaé maiegan ngajak kurenan. Bilih-bilih, togél ento marupa judi, babotohé bisa mahukum penjara limang tiban kena pasal 303 KUHP. Suwud nyemak gaé boya-boya, Bli! Luwungan bayah utangé,” tuturné.
“Diolas Luh, bang ja bli nganggeh, pang payu gén masang togél.”
“Sing dadi!” Saut dagangé bangras.
“Yén Makita sugih tur ngukup buntut, kema nunas nomor ka sétra Gandamayu, pati kapaica nomor jitu olih déwan togélé!” Imbuh dagangé.
Tangkejut Nang Molog ningehang tutur dagangé. Prajani ia mayah anggehan. “Péh lemahé jani buung masang togél. Pocol ngrumus, pocol ngelah angka jitu. Kéwala ada beneh tutur dagangé. Nyanan lakar mategar nyeraya nangkil ring déwan togél sané malingga malinggih ring sétra Gandamayu. Nyén nawang ida suéca. Cara sang Arjuna metapa di Gunung Indrakila polih Panugrahan Panah Pasupati. Iraga nyeraya di sétra Gandamayu, maan panugrahan angka jitu. Bani nyilihang pipis di LPD anggon masang togél. Pang taén ngukup liu, tur cukong togélé bangkrut. Ratu bhataran tiang sané nuénang togél, nyanan wengi tiang jagi nangkil, lédangang picayang tiang nomer jitu!” Ngamikmik Nang Molog nunas ica sambilanga mentas ngalih umah.
Surya sampun surub ring pakolemané. Sanja kagentos peteng. Nang Molog mataki-taki jagi nangkil ka Pura Prajapati. Nangkil ring sang nuénang sétra pacang nunas nomer jitu. Kabenengan nuju tilem ngaé guminé srebi. Yadiastun peteng, Nang Molog tusing makirig nyang atapak. Ia tetep majalan nuluh peteng. Sawatara majalan suba duang kilo, neked ia di tongos ané katuju. Sétra Gandamayu, Désa Pakraman Buung Kalah.
Nang Molog gagéson mesuang asep. Mesuang canang sari. Suba suwud ngenyit dupa, ia lantas negak masila di arep Pura Prajapati. Nganutin tata titi panca sembah. Paling simalu asana, nglantur pranayama, puja Tri Sandhya rumaris mabhakti. Risampun wusan mabhakti nglanturang yoga semadhi.
Tondén limang menit, Nang Molog tangkejut. Di arepné malejer Celuluk, réncang Ida Bhatari Dhurga.
“Manusa, apa kal alih mai mameteng buina magagapan laklak pikang?” Celuluk punika matakén.
“Nawegang, sira iring tiang mabaosan? Uleng tiang jagi mabaosan ngiring ida sasuhunan sané malingga malinggih, maparahyangan driki ring Pura Prajapati. Men sapa sira ragané ngoda tapa semadhin tiang?” Nang Molog ngwanénang déwék matakon.
“Nah pang tusing kamer, ingong ané kautus olih Ida Bhatari Dhurga nyapa sakadi pangrauh anaké sané nyeraya. Ingong biasa kaukiné Celuluk Bergolo. Men-men apa kal tunas ring ida bhatari?”
“Tiang nangkil jagi nunas nomor jitu. Apang naenin ngukup togél. Kadirasa sekayan tiangé magaé sampun telas anggon ngetohin nomer. Bilih-bilih carik warisan kulawarga sampun taler telas saplar bakat adep. Icén ja tiang nomor jitu apang mawali carik-carik sané sampun adol tiang. Lugrayang-lugrayang pica ida bhatari mangdané panjaké nénten malih kabrebehan!”
“Wong édan. Jlema buduh. Mai nagih nomer, sinah ba keliru. Tlektekang jep!” Raosné Celuluk Bergolo sinambi ngusud sirahné sané tan parambut.
“Napi tlektekang tiang, Ratu?”
“Né tolih tendas ingongé, nganti sing misi bulu, kedas lengar ulian ngrumus togél, patuh masé tusing taén ngukup. Ingong masé strés sing taén ngukup!”
           

3 komentar:

  1. SAYA BENAR BENAR TIDAK PERCAYA DAN HAMPIR PINSANG KARNA ANKA YANG DIBERIKAN OLEH MBAH SIGIT TERNYATA TEMBUS,AWALNYA SAYA COBA COBA MENELPON DAN SAYA MEMBERITAHUKAN SEMUA KELUHAN SAYA KEPADA MBAH SIGIT,,ALHAMDULILLAH MBAH SIGIT TELAH MEMBERIKAN SAYA SOLUSI YANG SANGAT TEPAT DAN DIA MEMBERIKAN ANKA YANG BEGITU TEPAT..,MULANYA SAYA RAGU TAPI DENGAN PENUH SEMANGAT ANKA YG DIBERIKAN MBAH SIGIT,ITU ITU SAYA KALI 100 LEMBAR DAN SYUKUR ALHAMDULILLAH BERHASIL,SESEKALI LAGI MAKASIH BANYAK YAA MBAH,SAYA TIDAK AKAN LUPA BANTUAN DAN BUDI BAIK MBAH SIGIT,JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA SILAHKAN HUBUNGI MBAH SIGIT. DI ‘’0853 2290 3889’’ ///////

    BalasHapus
  2. http://mistikangkatogel.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. Saya sangat berterimah kasih banyak kepada MBAH GINI atas bantuannya saya bisa menang togel,saya benar2 tidak percaya dan hampir pinsang karna anka yang di berikan MBAH 4695 ternyata tembus..!!! awalnya saya cuma coba2 menelpon,saya bilang saya terlantar di propensi sumatra dan tidak ada onkos pulang,mulanya saya ragu tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil,sekali lagi makasih banyak yaa MBAH dan saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH GINI ,bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HBG 082 326 326 769 MBAH GINI. Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.INGAT…kesempatan tidak akan datang untuk ke 2 kaliny

    BalasHapus